Dihujat Netizen, Anak Viral Ambil Lagi Ibunya dari Panti

Posted on 29 Jun 2025

Media sosial kembali diramaikan oleh kisah pilu dari Sidoarjo, Jawa Timur, yang melibatkan dua anak kandung berinisial F dan R. Keduanya sempat menjadi sasaran kemarahan publik setelah video mereka yang menyerahkan ibu kandungnya ke panti jompo beredar luas di dunia maya. Lebih mengejutkan, F dan R menandatangani surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa mereka tidak ingin lagi dihubungi oleh sang ibu, bahkan saat sang ibu wafat sekalipun.

Aksi tersebut sontak memantik reaksi keras dari warganet. Banyak yang menganggap tindakan F dan R sebagai bentuk pengabaian tanggung jawab moral dan sosial terhadap orang tua. Mereka dianggap telah mempermalukan nilai-nilai kekeluargaan yang selama ini dijunjung tinggi di masyarakat. Kritik datang bertubi-tubi dari berbagai penjuru media sosial, memicu gelombang diskusi yang makin melebar ke mana-mana.

Bukan hanya warganet, tekanan juga datang dari lingkungan sekitar dan keluarga besar mereka. Merasa terpojok oleh hujatan dan sorotan tajam publik, F dan R akhirnya mengambil keputusan untuk menjemput kembali sang ibu dari panti jompo. Namun, langkah ini justru memantik babak baru dalam polemik yang tak kunjung reda.

Alih-alih dianggap sebagai bentuk penyesalan atau kesadaran, tindakan mengambil kembali sang ibu dinilai netizen sebagai respons yang terpaksa akibat tekanan publik. “Kalau nggak viral, ibunya nggak bakal dijemput,” ujar salah satu komentar pedas. “Mereka nggak ikhlas, cuma takut makin dihujat,” tambah warganet lain. Narasi tentang keikhlasan menjadi isu utama yang dipertanyakan publik.

Situasi makin rumit ketika video penjemputan itu menampilkan sosok anak perempuan dari F atau R, yang tidak mengenakan jilbab. Hal tersebut turut menjadi bahan perdebatan di kolom komentar. Ada yang mempertanyakan pola asuh, ada pula yang mengkritik arah sorotan publik yang dinilai terlalu jauh dari pokok persoalan awal.

Di sisi lain, pihak panti jompo menyatakan tidak mempermasalahkan keputusan keluarga tersebut. Mereka menyambut baik upaya penjemputan kembali asalkan sesuai dengan prosedur dan tidak menimbulkan konflik baru. Panti juga menekankan bahwa keputusan seperti ini bukan pertama kali terjadi, dan selalu mengedepankan kesejahteraan lansia yang dititipkan.

Kisah ini menjadi cermin betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik dan tekanan sosial. Di tengah banjir komentar dan emosi publik, persoalan kemanusiaan yang sejatinya kompleks menjadi konsumsi massa dalam bentuk yang amat sederhana: disukai atau dibenci. Kasus F dan R bukan sekadar soal benar atau salah, melainkan potret tentang bagaimana masyarakat menuntut nilai-nilai moral ditegakkan, meski kadang tanpa memberi ruang untuk dialog dan pemahaman mendalam.